Admin
Selasa, 15 September 2026
Siwalan, 15 September 2026 - Perkembangan penggunaan rokok elektronik atau vape perlu menjadi perhatian bersama. Jika sebelumnya vape banyak dikenal sebagai produk yang mengandung nikotin dan berbagai bahan kimia, kini muncul pula kekhawatiran mengenai penyalahgunaan vape sebagai media untuk memasukkan zat lain yang dapat membahayakan kesehatan, termasuk etomidate.
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa rokok elektronik bukan merupakan alternatif yang aman dibandingkan rokok konvensional. Penggunaan vape tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan juga membuka peluang penyalahgunaan zat berbahaya, terutama pada kelompok usia muda.
Etomidate merupakan obat yang digunakan dalam dunia kedokteran, terutama sebagai obat anestesi untuk membantu proses pembiusan pada tindakan medis tertentu. Penggunaannya seharusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai indikasi dan dosis yang tepat.
Masalah muncul ketika etomidate disalahgunakan dan dimasukkan ke dalam cairan vape untuk mendapatkan efek tertentu. Penggunaan melalui vape bukanlah cara penggunaan medis yang aman.
Penyalahgunaan etomidate melalui vape menjadi perhatian karena zat tersebut dapat memengaruhi sistem saraf dan fungsi tubuh. Otoritas kesehatan di Singapura, yang menghadapi peningkatan penyalahgunaan vape berisi etomidate, melaporkan berbagai efek serius seperti kebingungan, kehilangan kesadaran, gerakan tubuh yang tidak terkendali, gangguan irama jantung, perubahan tekanan darah, gangguan pernapasan, hingga gangguan hormon. Pada kondisi berat, efek tersebut dapat mengancam nyawa.
Vape etomidate memiliki risiko yang berbeda dari vape biasa karena pengguna tidak hanya terpapar aerosol rokok elektronik, tetapi juga dapat memasukkan zat psikoaktif atau obat yang seharusnya digunakan secara medis ke dalam tubuh.
Beberapa risiko yang perlu diketahui antara lain:
Etomidate dapat memengaruhi sistem saraf pusat. Penyalahgunaannya dapat menyebabkan rasa mengantuk berat, kebingungan, penurunan kesadaran, bahkan kehilangan kesadaran.
Kondisi tersebut sangat berbahaya apabila terjadi ketika seseorang sedang berkendara, bekerja menggunakan mesin, berada di tempat tinggi, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.
Efek etomidate dapat memengaruhi fungsi pernapasan. Gangguan pernapasan merupakan salah satu kondisi yang harus diwaspadai karena dapat berkembang menjadi keadaan darurat.
Jika setelah menggunakan vape seseorang mengalami sesak, napas tidak normal, sulit dibangunkan, atau kehilangan kesadaran, segera cari pertolongan medis.
Penyalahgunaan etomidate dapat berhubungan dengan perubahan tekanan darah dan gangguan irama jantung. Kondisi ini semakin berisiko apabila zat tersebut digunakan tanpa mengetahui kandungan, konsentrasi, maupun dosis yang masuk ke dalam tubuh.
Penggunaan etomidate secara tidak tepat dapat menimbulkan gerakan tubuh yang tidak terkendali atau kondisi lain yang memengaruhi koordinasi tubuh.
Hal ini dapat meningkatkan risiko jatuh, kecelakaan, maupun cedera.
Penyalahgunaan zat melalui vape bukan sekadar masalah kebiasaan merokok. Zat yang masuk ke dalam tubuh dapat memberikan efek pada otak, jantung, paru-paru, serta berbagai fungsi tubuh lainnya.
BPOM juga mengingatkan bahwa perkembangan penyalahgunaan zat semakin kompleks, termasuk penggunaan cairan vape sebagai media untuk menyamarkan zat berbahaya. Penyalahgunaan obat atau zat adiktif dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerusakan otak, hingga overdosis yang berujung pada kematian.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa bahaya tidak hanya berasal dari vape yang mengandung etomidate.
Vape biasa dapat mengandung nikotin, partikel sangat kecil, senyawa organik yang mudah menguap, bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker, serta logam berat seperti nikel dan timah. Nikotin juga bersifat sangat adiktif dan dapat berdampak buruk terhadap perkembangan otak, terutama pada anak dan remaja.
Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa vape dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, kerusakan paru, serta risiko penyakit lainnya.
Artinya, vape bukan produk yang bebas risiko. Apalagi jika cairan yang digunakan ternyata mengandung zat lain yang tidak diketahui oleh penggunanya.
Salah satu masalah yang perlu diwaspadai adalah pengguna sering kali tidak mengetahui secara pasti kandungan cairan vape yang diperoleh dari sumber tidak resmi.
Kemasan, aroma, warna, atau nama produk tidak dapat dijadikan jaminan bahwa cairan tersebut aman. BPOM pada tahun 2026 juga mengingatkan adanya perkembangan modus penyalahgunaan vape sebagai media penyamaran narkotika atau zat berbahaya lainnya.
Karena itu, jangan mencoba cairan vape yang ditawarkan dengan klaim seperti:
Jangan mencoba hanya karena penasaran atau mengikuti ajakan teman.
Seseorang yang diduga menggunakan vape yang mengandung zat berbahaya dapat menunjukkan perubahan kondisi fisik maupun perilaku.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang pasti menggunakan etomidate. Namun, apabila muncul setelah menggunakan vape atau cairan yang tidak diketahui kandungannya, kondisi tersebut perlu dianggap serius.
Jika seseorang mengalami sesak berat, sulit bernapas, kehilangan kesadaran, kejang, atau sulit dibangunkan setelah menggunakan vape, jangan menunggu kondisi membaik sendiri.
Segera:
Jangan merasa takut atau malu untuk mencari pertolongan kesehatan. Keselamatan dan penanganan kondisi medis harus menjadi prioritas.
Anak dan remaja merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Kemasan yang menarik, rasa yang beragam, serta anggapan bahwa vape lebih aman dapat membuat anak dan remaja lebih mudah tertarik mencoba.
Orang tua tidak hanya perlu melarang, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka. Ajarkan anak untuk berani mengatakan “tidak” ketika ditawari vape, obat, atau zat apa pun yang tidak jelas.
Perhatikan pula perubahan perilaku, lingkungan pergaulan, serta kebiasaan anak tanpa melakukan pendekatan yang menghakimi. Edukasi dan komunikasi yang baik dapat menjadi salah satu benteng penting untuk mencegah penyalahgunaan zat sejak dini.
Bagi perokok yang ingin berhenti merokok, mengganti rokok konvensional dengan vape bukan berarti terbebas dari risiko kesehatan.
Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa rokok elektrik bukan alternatif yang lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Upaya berhenti merokok sebaiknya dilakukan dengan dukungan yang tepat, termasuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami kesulitan untuk berhenti.
Bahaya vape etomidate menunjukkan bahwa penyalahgunaan zat dapat berkembang dengan berbagai cara dan memanfaatkan produk yang terlihat biasa.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Jangan mencoba vape yang tidak jelas kandungannya, jangan menerima tawaran zat yang memberikan efek memabukkan atau “fly”, dan jangan menganggap sesuatu aman hanya karena bentuknya menyerupai produk yang umum digunakan.
Jika Anda, keluarga, atau orang di sekitar Anda mengalami masalah terkait penggunaan vape, rokok, atau penyalahgunaan zat, jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan.
Kesehatan bukan untuk dipertaruhkan karena rasa penasaran. Katakan tidak pada vape dan zat berbahaya. Mari bersama-sama melindungi kesehatan dan masa depan generasi muda.