Admin
Kamis, 7 Mei 2026
Dalam beberapa pekan terakhir, dunia kembali menaruh perhatian pada penyakit hantavirus setelah munculnya sejumlah kasus yang dikaitkan dengan wabah di kapal pesiar internasional MV Hondius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa kasus terus bertambah dan melibatkan beberapa negara, meskipun hingga kini risiko penyebaran luas masih dinilai rendah.
Hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Virus ini telah lama dikenal sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Meski relatif jarang terjadi dibandingkan penyakit menular lainnya, hantavirus memiliki tingkat keparahan yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat.
Menurut dan, hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini dapat menyebabkan dua sindrom utama pada manusia, yaitu:
WHO memperkirakan terdapat sekitar 10.000 hingga lebih dari 100.000 kasus infeksi hantavirus setiap tahun di seluruh dunia, dengan beban kasus terbesar berada di Asia dan Eropa.
Hantavirus terutama menyebar melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Penularan biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel virus di udara, terutama ketika membersihkan area yang kotor dan tertutup tanpa perlindungan yang memadai.
Aktivitas yang berisiko antara lain:
CDC menegaskan bahwa sebagian besar hantavirus tidak menular antar manusia. Namun, terdapat pengecualian pada jenis Andes virus yang ditemukan di Amerika Selatan. Virus ini diketahui dapat menular antar manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, sehingga banyak orang terlambat menyadari infeksi yang dialami. Gejala umum meliputi:
Pada kasus HPS atau HCPS, kondisi dapat berkembang dengan cepat menjadi:
Sementara pada HFRS, penderita dapat mengalami:
WHO menyebutkan bahwa tingkat kematian pada beberapa jenis hantavirus dapat mencapai hingga 50 persen, terutama bila pasien terlambat mendapatkan penanganan intensif.
Perhatian dunia terhadap hantavirus meningkat setelah terjadinya klaster kasus di kapal pesiar MV Hondius pada tahun 2026. WHO melaporkan sejumlah penumpang dan awak kapal terinfeksi strain Andes hantavirus yang dikenal memiliki kemampuan penularan antar manusia secara terbatas.
Hingga akhir Mei 2026, lebih dari 10 kasus telah terkonfirmasi dengan beberapa kematian dilaporkan. Otoritas kesehatan internasional melakukan pelacakan kontak di puluhan negara untuk mencegah penyebaran lebih luas.
WHO menegaskan bahwa wabah ini masih terkendali, namun menjadi pengingat penting bahwa penyakit zoonosis tetap berpotensi memicu kejadian luar biasa apabila pengawasan kesehatan tidak diperkuat.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mulai memperkuat skrining dan pengawasan menyusul meningkatnya perhatian global terhadap hantavirus. Pemerintah juga meningkatkan kesiapsiagaan di pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan.
Walaupun hingga kini belum terjadi wabah besar di Indonesia, kewaspadaan tetap diperlukan karena tikus sebagai reservoir virus sangat mudah ditemukan di lingkungan permukiman maupun area pertanian.
Sampai saat ini belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin yang secara luas digunakan untuk hantavirus. Penanganan medis berfokus pada terapi suportif, seperti:
WHO dan CDC menekankan bahwa deteksi dini dan penanganan cepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Pencegahan hantavirus terutama dilakukan dengan mengurangi kontak dengan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam dan sesak napas setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.
Kasus hantavirus menunjukkan bahwa penyakit yang berasal dari hewan masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan dunia. Mobilitas manusia yang semakin tinggi, perubahan iklim, serta meningkatnya interaksi manusia dengan habitat satwa liar dapat memperbesar risiko munculnya wabah zoonosis baru.
Karena itu, penguatan surveilans, edukasi masyarakat, serta kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa mendatang.