Admin
Sabtu, 17 Oktober 2026
Siwalan, 17 Oktober 2026 - Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari pembakaran vegetasi dan lahan mengandung partikel halus serta berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan.
Kementerian Kesehatan RI mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif sejak Agustus hingga 13 Oktober 2026 di tujuh provinsi terdampak karhutla. Kasus tersebut dilaporkan dari 63 kabupaten/kota yang terdampak.
Angka tersebut menunjukkan besarnya beban pelayanan kesehatan di tengah kejadian karhutla. Namun, perlu dipahami bahwa data tersebut merupakan jumlah kasus ISPA yang tercatat di wilayah terdampak, bukan bukti bahwa seluruh kasus secara individual disebabkan langsung oleh asap karhutla.
Sebelumnya, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak. Perbedaan angka tersebut mencerminkan pembaruan data dengan periode pengamatan yang lebih panjang.
Tujuh provinsi yang menjadi perhatian dalam laporan Kementerian Kesehatan meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada 16 Oktober 2026, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan menjadi dua provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi. Berikut rincian wilayah yang telah dilaporkan:
| Provinsi | Jumlah kasus ISPA |
|---|---|
| Kalimantan Selatan | 74.636 |
| Sumatera Selatan | 74.458 |
| Kalimantan Barat | 52.201 |
| Riau | 31.285 |
| Kalimantan Tengah | 24.101 |
| Kalimantan Timur | 23.761 |
| Total kumulatif nasional pada tujuh provinsi | 283.270 |
Dari keseluruhan kasus kumulatif tersebut, Kemenkes melaporkan 63.711 kasus pada anak usia 0–5 tahun, sedangkan 219.559 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Data ini menegaskan pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dan kelompok rentan selama kondisi kabut asap berlangsung.
Dampak asap karhutla tidak terbatas pada batuk atau sesak napas. Paparan polusi dapat memicu gangguan baru, memperburuk penyakit yang telah diderita, dan meningkatkan risiko komplikasi, terutama pada kelompok rentan.
ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling banyak mendapat perhatian selama kejadian kabut asap. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan gangguan pernapasan.
Asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan pernapasan. Meski demikian, ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri, dan berbagai faktor lain sehingga tidak semua kasus dapat dikaitkan langsung dengan paparan asap.
Partikel halus serta zat iritan dalam asap dapat memicu penyempitan saluran napas pada penderita asma. Gejalanya antara lain napas berbunyi mengi, batuk berulang, dada terasa sesak, dan kesulitan bernapas.
Paparan asap juga dapat memperburuk penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), terutama pada lansia dan orang dengan riwayat merokok atau penyakit paru kronis.
Penderita asma dan PPOK disarankan mengikuti rencana pengobatan dari dokter, memastikan obat yang diresepkan tersedia, dan segera mencari pertolongan apabila gejalanya memburuk.
Asap dapat menimbulkan mata merah, perih, berair, hidung terasa tidak nyaman, tenggorokan kering, dan iritasi kulit.
Apabila mata terpapar asap, hindari menguceknya. Bilas menggunakan air bersih jika diperlukan. Jika timbul nyeri mata berat, gangguan penglihatan, atau iritasi yang tidak membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Partikel PM2.5 dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dampaknya berkaitan dengan peradangan sistemik serta gangguan fungsi pembuluh darah. Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular, terutama pada orang dengan penyakit jantung atau pembuluh darah sebelumnya.
Gejala seperti nyeri dada, sesak napas berat, pingsan, atau kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh harus dianggap sebagai keadaan darurat.
Ibu hamil perlu mengurangi paparan asap karena polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko sejumlah luaran kehamilan yang merugikan, termasuk kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
Ibu hamil sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menghindari lokasi kebakaran, dan tetap menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Anak-anak lebih rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang dan mereka dapat menghirup lebih banyak udara dibandingkan berat badannya saat beraktivitas. Pada lansia, asap dapat memperburuk penyakit kronis dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis.
Orang tua perlu mengurangi aktivitas bermain di luar ruangan bagi anak ketika udara tercemar, sedangkan keluarga yang merawat lansia perlu memastikan lingkungan dalam rumah sebersih mungkin dari asap.
Karhutla yang berkepanjangan dapat mengganggu rutinitas, aktivitas sekolah, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, kehilangan mata pencaharian, serta ketidakpastian kapan asap berakhir dapat memicu stres, kecemasan, dan gangguan tidur.
Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang jelas dan dapat dipercaya, dukungan keluarga, serta akses terhadap layanan kesehatan mental apabila tekanan psikologis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih meliputi:
Kelompok tersebut sebaiknya mendapat prioritas dalam penyampaian peringatan kesehatan, pembatasan aktivitas di luar ruangan, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Masyarakat dapat memeriksa informasi kualitas udara melalui dan informasi resmi kualitas udara serta cuaca dari instansi pemerintah.
Ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Jika muncul kabut asap pekat atau bau asap yang kuat, segera lakukan langkah perlindungan meskipun belum tersedia pengukuran kualitas udara di sekitar tempat tinggal.
Masker respirator seperti N95 atau standar setara yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus dari asap. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan baik serta tidak memiliki celah besar di bagian tepi.
Masker tidak menghilangkan seluruh risiko paparan, tidak menyaring semua gas berbahaya, dan tidak menggantikan kebutuhan untuk menghindari sumber asap.
Tutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar. Jika memungkinkan, gunakan alat penyaring udara dengan filter partikulat efisiensi tinggi yang sesuai dengan ukuran ruangan.
Hindari merokok, membakar sampah, menyalakan dupa, atau melakukan aktivitas lain yang menambah polusi di dalam rumah. Apabila menggunakan pendingin udara, pilih pengaturan sirkulasi ulang jika tersedia dan pastikan perawatan filter dilakukan sesuai petunjuk.
Tunda olahraga di luar ruangan, kegiatan bermain anak, atau aktivitas fisik berat ketika kualitas udara buruk. Sekolah, tempat kerja, dan penyelenggara kegiatan masyarakat perlu menyesuaikan kegiatan luar ruangan berdasarkan kondisi udara setempat.
Pekerja yang tidak dapat menghindari paparan perlu memperoleh perlindungan pernapasan yang sesuai, pengurangan durasi paparan, waktu istirahat di tempat yang bersih, serta prosedur keselamatan kerja.
Pastikan anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis memiliki tempat berlindung yang lebih bersih dari asap.
Penderita asma dan PPOK perlu mengikuti pengobatan yang telah ditetapkan tenaga kesehatan. Jangan menghentikan atau mengganti obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Minum air yang cukup, makan bergizi, dan beristirahat dengan baik membantu menjaga kondisi tubuh. Namun, minum air atau vitamin tidak dapat menetralkan efek partikel beracun yang terhirup.
Hindari penggunaan antibiotik, obat batuk, atau obat lain tanpa indikasi dan petunjuk yang tepat. Segera periksakan diri apabila mengalami batuk yang menetap, demam, napas berbunyi, atau keluhan yang semakin berat.
Segera cari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, bibir membiru, penurunan kesadaran, atau kesulitan berbicara akibat gangguan pernapasan.
Pada bayi dan anak, napas cepat atau tarikan dinding dada ke dalam, sulit minum, dan tampak sangat lemas merupakan tanda yang memerlukan pemeriksaan segera.
Jangan menunggu gejala memburuk hanya karena menganggapnya sebagai dampak asap biasa.