Siwalan, 31 Juli 2026 – Puskesmas Siwalan menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Lintas Sektoral sebagai upaya memperkuat koordinasi, kolaborasi, dan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan kesehatan di wilayah Kecamatan Siwalan. Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), pemerintah desa, lintas sektor, organisasi kemasyarakatan, kader kesehatan, serta berbagai mitra yang selama ini berperan aktif dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Siwalan.
Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk menyampaikan capaian program kesehatan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah berjalan, membahas berbagai tantangan di lapangan, sekaligus menyusun langkah bersama guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Dalam paparannya, Kepala Puskesmas Siwalan menyampaikan perkembangan pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Pelaksanaan CKG di wilayah kerja Puskesmas Siwalan dilakukan baik di dalam gedung maupun di luar gedung melalui berbagai pendekatan pelayanan, seperti Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), sekolah, pondok pesantren, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), organisasi perangkat daerah, serta kegiatan pelayanan kesehatan di desa-desa. Hingga akhir Juni 2026, program ini telah menjangkau ribuan masyarakat dari berbagai kelompok sasaran, mulai dari bayi baru lahir, balita, usia sekolah, dewasa hingga lanjut usia. Meskipun demikian, masih diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan cakupan pelayanan agar target yang telah ditetapkan dapat tercapai secara optimal.
Dalam diskusi juga disampaikan berbagai tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan CKG, di antaranya masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terbatasnya partisipasi sasaran di Posyandu, adanya penduduk usia produktif yang merantau, perlunya peningkatan ketepatan pelaporan melalui aplikasi ASIK, serta kebutuhan sarana, prasarana, dan alat kesehatan yang memadai. Untuk menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Siwalan mengajak seluruh pemerintah desa, kader kesehatan, serta lintas sektor agar terus berperan aktif dalam menggerakkan masyarakat mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan di wilayah masing-masing.
Selain membahas capaian CKG, pertemuan ini juga memaparkan inovasi Penemuan Kasus Tuberkulosis (TB) melalui Tracing TB Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis. Program ini bertujuan mempercepat pelacakan kontak serumah dan kontak erat penderita TB, meningkatkan penemuan kasus baru, memperluas pemberian terapi pencegahan TB, sekaligus mengintegrasikan kegiatan tracing dengan pelayanan CKG secara sistematis. Melalui kolaborasi antara Puskesmas, rumah sakit, kader kesehatan, pemerintah desa, dan lintas sektor lainnya, diharapkan penemuan kasus TB dapat dilakukan lebih cepat sehingga penularan penyakit dapat ditekan sejak dini.
Sabtu, 1 Agustus 2026
Materi berikutnya membahas pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Tahun 2026. Pada bulan Agustus, kegiatan BIAS akan memberikan imunisasi kepada siswa kelas 1 berupa vaksin MR (Campak Rubella) serta siswi kelas 5 berupa vaksin HPV. Program ini merupakan salah satu bentuk perlindungan kesehatan anak sekolah agar terhindar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, sekaligus mendukung terwujudnya generasi yang sehat dan berkualitas.
Pertemuan lintas sektor juga menjadi sarana sosialisasi mengenai implementasi Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2024. Dalam pemaparan dijelaskan bahwa Posyandu kini memiliki peran lebih luas sebagai bagian dari Lembaga Kemasyarakatan Desa yang mendukung enam bidang pelayanan dasar, yaitu pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, serta bidang sosial. Meskipun terdapat penguatan fungsi Posyandu di berbagai bidang, pelayanan kesehatan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) tetap berjalan sebagaimana selama ini dan tetap melayani seluruh siklus hidup masyarakat mulai dari bayi hingga lanjut usia.
Melalui forum ini, seluruh peserta juga berdiskusi mengenai pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam mendukung berbagai program kesehatan. Sinergi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, institusi pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta berbagai mitra lainnya dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sekaligus mewujudkan pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.
Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap penyelenggaraan program kesehatan di wilayah Kecamatan Siwalan, kegiatan diakhiri dengan penandatanganan Komitmen Bersama Lintas Sektor Puskesmas Siwalan. Penandatanganan komitmen ini menjadi simbol kesepakatan seluruh unsur lintas sektor untuk terus memperkuat koordinasi, meningkatkan kolaborasi, serta bersama-sama mendukung seluruh program kesehatan demi mewujudkan masyarakat Kecamatan Siwalan yang sehat, mandiri, dan berkualitas.
Puskesmas Siwalan menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh unsur lintas sektor yang telah hadir serta memberikan dukungan dalam kegiatan ini. Diharapkan semangat kebersamaan dan komitmen yang telah dibangun dapat terus diwujudkan dalam berbagai aksi nyata di lapangan sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat semakin optimal dan target pembangunan kesehatan di Kecamatan Siwalan dapat tercapai dengan baik.
Siwalan – Sebagai upaya meningkatkan derajat kesehatan remaja sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan peduli terhadap kesehatan fisik maupun mental, Puskesmas Siwalan melaksanakan kegiatan Pelita Tumbuh (Pendampingan Layanan Psikologis dan Tumbuh Kembang Anak Sekolah) pada Senin, 27 Juli 2026 bertempat di SMPN 1 Siwalan.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Kesehatan Jiwa Anak Sekolah ini diprakarsai oleh Intani Rahmadhani selaku penanggung jawab program. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh 36 peserta yang terdiri atas Guru Bimbingan Konseling (BK), Wakil Kepala Sekolah, serta perwakilan siswa. Kegiatan dibuka oleh Ibu Tifany Ratnasari, S.Pd, guru SMPN 1 Siwalan, dan turut dihadiri oleh Kepala Sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan layanan kesehatan di lingkungan sekolah.
Materi disampaikan oleh dr. Asit Widyastuti bersama Intani Rahmadhani, yang memberikan edukasi mengenai pentingnya kesehatan jiwa remaja, tumbuh kembang anak usia sekolah, serta pembentukan First Aider sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama, khususnya pada kondisi kedaruratan psikologis di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan ini, tim First Aider Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis secara resmi telah disahkan melalui Surat Keputusan (SK) Kepala SMPN 1 Siwalan. Pembentukan tim ini menjadi langkah nyata sekolah dalam memperkuat sistem perlindungan dan dukungan bagi seluruh warga sekolah, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan kesehatan mental yang dapat dialami oleh peserta didik.
First Aider di sekolah memiliki peran penting dalam memberikan respons awal ketika ditemukan siswa atau warga sekolah yang mengalami tekanan psikologis, krisis emosional, maupun kondisi kedaruratan lainnya. Kehadiran tim ini diharapkan mampu memberikan pertolongan awal, menenangkan korban, mencegah kondisi menjadi lebih berat, serta menghubungkan siswa dengan tenaga kesehatan atau layanan profesional apabila diperlukan. Selain itu, First Aider juga berperan dalam memberikan respons cepat terhadap kondisi kegawatdaruratan fisik sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.
Melalui inovasi Pelita Tumbuh, Puskesmas Siwalan mengembangkan pendekatan pelayanan kesehatan remaja yang lebih komprehensif. Program ini tidak hanya berfokus pada penanganan masalah kesehatan ketika sudah terjadi, tetapi juga mengedepankan upaya promotif dan preventif melalui edukasi, deteksi dini faktor risiko, serta pemberdayaan kader kesehatan sekolah.
Program ini bertujuan meningkatkan derajat kesehatan remaja melalui pelayanan kesehatan yang terintegrasi, edukasi berkelanjutan, skrining kesehatan, konseling, serta pelibatan aktif kader sebaya sebagai pendidik dan pendamping bagi teman-temannya. Sasaran program meliputi siswa SMP dan SMA sederajat, guru UKS, kader sebaya (peer educator), serta orang tua atau wali siswa sehingga tercipta dukungan kesehatan yang menyeluruh.
[Gambar] [Gambar]
[Gambar][Gambar]
Pelaksanaan program diawali dengan tahap persiapan melalui koordinasi antara Puskesmas, pihak sekolah, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya. Selanjutnya dilakukan pembentukan Tim Posyandu Remaja Sekolah, seleksi serta pelatihan kader remaja, penyusunan jadwal kegiatan rutin setiap bulan, hingga penyediaan sarana dan media edukasi yang mendukung proses pembelajaran kesehatan di sekolah.
Pada tahap pelaksanaan, kegiatan Posyandu Remaja menggunakan sistem 5 meja pelayanan. Meja pertama melayani registrasi dan absensi peserta. Meja kedua digunakan untuk pemeriksaan antropometri seperti pengukuran tinggi badan, berat badan, Indeks Massa Tubuh (IMT), lingkar lengan atas bila diperlukan, serta pemeriksaan tekanan darah. Meja ketiga difokuskan pada skrining kesehatan meliputi pemeriksaan anemia (Hb), status gizi, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, perilaku merokok, konsumsi alkohol dan NAPZA, serta aktivitas fisik. Selanjutnya pada meja keempat dilakukan konseling individu maupun kelompok oleh tenaga kesehatan bersama kader sebaya. Sementara pada meja kelima diberikan edukasi kesehatan, tindak lanjut hasil pemeriksaan, serta rujukan apabila ditemukan masalah kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Berbagai materi edukasi diberikan kepada peserta, di antaranya mengenai gizi seimbang, pencegahan anemia melalui konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), kesehatan reproduksi remaja, pencegahan stunting sejak usia remaja, kesehatan mental, bahaya merokok, alkohol dan NAPZA, pentingnya aktivitas fisik, pencegahan perundungan (bullying), hingga literasi kesehatan digital.
[Gambar][Gambar]
Agar penyampaian materi lebih menarik dan mudah dipahami oleh remaja, kegiatan dilaksanakan menggunakan berbagai metode seperti penyuluhan interaktif, diskusi kelompok kecil, edukasi sebaya (peer education), permainan edukatif, konseling individual, skrining kesehatan berkala, serta kampanye kesehatan melalui media sosial sekolah.
Sebagai bentuk pengendalian mutu program, monitoring dan evaluasi dilaksanakan setiap bulan dengan melihat berbagai indikator, antara lain persentase kehadiran siswa, cakupan skrining kesehatan, kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah, jumlah kasus yang ditemukan dan dirujuk, peningkatan pengetahuan peserta melalui pre-test dan post-test, serta evaluasi terhadap kinerja kader Posyandu Remaja.
Melalui inovasi ini, Puskesmas Siwalan mengintegrasikan berbagai layanan kesehatan remaja dalam satu program yang berkesinambungan, mulai dari Posyandu Remaja di sekolah, kelas edukasi kesehatan, konseling psikologi dan kesehatan reproduksi, skrining anemia, status gizi dan kesehatan mental, pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah, dashboard pencatatan digital hasil skrining, hingga pelibatan kader sebaya sebagai pendidik dan pendamping.
Diharapkan, kehadiran Tim First Aider dan pelaksanaan Program Pelita Tumbuh mampu mewujudkan sekolah yang lebih aman, tanggap terhadap kondisi darurat, serta peduli terhadap kesejahteraan fisik, mental, dan sosial seluruh warganya. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi lingkungan yang sehat, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal.
Selasa, 28 Juli 2026
Siwalan, 8 Juli 2026 – Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Tahap 1, Puskesmas Siwalan melalui Program Kesehatan Lingkungan kembali melaksanakan IKL Tahap 2 di SPPG Rembun 2, Desa Rembun, pada Rabu (8/7/2026) mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan dan evaluasi berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh aspek kesehatan lingkungan di lingkungan SPPG telah memenuhi persyaratan sesuai standar yang berlaku.
Kegiatan dipimpin oleh Retnowati, Petugas Sanitasi Lingkungan Puskesmas Siwalan selaku penanggung jawab Program Kesehatan Lingkungan. Pelaksanaan inspeksi juga melibatkan tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan serta Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) yang turut melakukan pendampingan dan pemeriksaan teknis. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung terciptanya fasilitas penyelenggara pelayanan yang aman, sehat, dan memenuhi ketentuan kesehatan lingkungan.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari pengelola serta petugas SPPG Rembun 2 mengikuti kegiatan ini. Seluruh peserta berpartisipasi aktif selama proses inspeksi berlangsung, mulai dari mendampingi tim saat melakukan peninjauan lapangan, memberikan informasi mengenai tindak lanjut hasil IKL Tahap 1, hingga mengikuti diskusi terkait berbagai rekomendasi yang masih perlu dipenuhi.
Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tahap 2 dilaksanakan untuk mengevaluasi sejauh mana rekomendasi hasil IKL Tahap 1 telah ditindaklanjuti oleh pengelola SPPG. Selain melakukan pemeriksaan ulang terhadap berbagai aspek sanitasi lingkungan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pengambilan sampel makanan dan sampel air yang selanjutnya akan diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu tahapan penting dalam memastikan bahwa kualitas makanan yang disajikan serta sumber air yang digunakan memenuhi persyaratan kesehatan dan aman untuk dimanfaatkan dalam kegiatan operasional.
[Gambar] [Gambar]
Selama kegiatan berlangsung, tim inspeksi melakukan peninjauan secara menyeluruh terhadap berbagai komponen kesehatan lingkungan, meliputi kondisi bangunan, kebersihan area kerja, sanitasi dasar, fasilitas cuci tangan, pengelolaan sampah, sistem pembuangan air limbah, ventilasi, pencahayaan, penyimpanan bahan pangan, kebersihan peralatan, serta penerapan higiene personal oleh petugas. Seluruh aspek tersebut merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat sekaligus mencegah terjadinya risiko pencemaran maupun kontaminasi pangan.
Pengambilan sampel makanan dilakukan untuk mengetahui apakah makanan yang diproduksi memenuhi persyaratan keamanan pangan dari sisi mikrobiologi maupun parameter lain yang dipersyaratkan. Sementara itu, pengambilan sampel air bertujuan memastikan bahwa air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan, pencucian peralatan, maupun kebutuhan sanitasi lainnya memiliki kualitas yang memenuhi standar kesehatan. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah pembinaan maupun tindak lanjut yang perlu dilakukan oleh pengelola SPPG.
Selain melakukan inspeksi dan pengambilan sampel, tim juga memberikan pembinaan kepada pengelola mengenai pentingnya penerapan higiene sanitasi secara konsisten dalam setiap tahapan kegiatan. Edukasi diberikan mengenai pengelolaan lingkungan yang baik, pemeliharaan sarana sanitasi, kebersihan area pengolahan makanan, serta pentingnya melakukan pengawasan secara rutin agar standar kesehatan tetap terjaga. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran seluruh petugas bahwa kesehatan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas pelayanan.
Berdasarkan hasil evaluasi lapangan, tim masih menemukan beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian dan penyempurnaan. Meskipun sejumlah rekomendasi dari IKL Tahap 1 telah mulai ditindaklanjuti, masih terdapat beberapa kekurangan yang harus segera diperbaiki agar seluruh persyaratan kesehatan lingkungan dapat dipenuhi secara menyeluruh. Temuan-temuan tersebut telah disampaikan kepada pengelola beserta rekomendasi teknis sebagai pedoman dalam melakukan perbaikan.
Proses pembinaan yang dilakukan dalam IKL Tahap 2 tidak hanya berorientasi pada penilaian, tetapi juga menekankan pentingnya pendampingan dan kerja sama. Tim dari Puskesmas Siwalan, Dinas Kesehatan, dan Labkesda memberikan berbagai masukan yang konstruktif agar pengelola mampu melakukan perbaikan secara bertahap sesuai dengan prioritas kebutuhan. Dengan demikian, setiap kekurangan yang masih ada dapat segera diatasi tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang telah berjalan.
Pelaksanaan inspeksi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga kualitas kesehatan lingkungan. Lingkungan yang memenuhi standar sanitasi tidak hanya mendukung kelancaran operasional, tetapi juga menjadi salah satu faktor penting dalam melindungi kesehatan petugas serta masyarakat yang menerima manfaat dari pelayanan yang diberikan.
Puskesmas Siwalan berharap seluruh rekomendasi hasil IKL Tahap 2 dapat segera ditindaklanjuti oleh pengelola SPPG Rembun 2. Perbaikan terhadap sarana, prasarana, maupun penerapan prosedur higiene sanitasi diharapkan dapat dilakukan sesegera mungkin sehingga seluruh persyaratan kesehatan lingkungan dapat dipenuhi secara optimal. Hasil pemeriksaan sampel makanan dan sampel air dari laboratorium nantinya juga akan menjadi bahan evaluasi lanjutan dalam menentukan langkah pembinaan berikutnya.
[Gambar] [Gambar]
Melalui kegiatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan, Puskesmas Siwalan terus berupaya meningkatkan mutu kesehatan lingkungan di wilayah kerjanya. Sinergi antara Puskesmas, Dinas Kesehatan, Laboratorium Kesehatan Daerah, serta pengelola SPPG diharapkan mampu menciptakan fasilitas yang memenuhi standar kesehatan, mendukung keamanan pangan, serta memberikan pelayanan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Rabu, 8 Juli 2026
Siwalan, 2 Juli 2026 – Puskesmas Siwalan melalui Program Kesehatan Lingkungan (Kesling) terus berkomitmen mendukung terciptanya lingkungan yang sehat pada setiap fasilitas pelayanan masyarakat. Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) Tahap 1 di SPPG Rembun 2 yang berlokasi di Desa Rembun, Kecamatan Siwalan, pada Kamis, 2 Juli 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembinaan dan pengawasan kesehatan lingkungan untuk memastikan bahwa seluruh sarana, prasarana, serta aktivitas operasional di lingkungan SPPG telah memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan lingkungan yang memenuhi standar kesehatan, diharapkan penyelenggaraan pelayanan dapat berjalan secara aman, nyaman, higienis, dan mampu memberikan perlindungan bagi petugas maupun masyarakat sebagai penerima manfaat.
Pelaksanaan kegiatan dipimpin oleh Retnowati, Petugas Sanitasi Lingkungan Puskesmas Siwalan selaku penanggung jawab Program Kesehatan Lingkungan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan juga mendapat pendampingan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, yang dihadiri oleh Ida Fariani, SKM dan R. Maxon, SKM. Kehadiran tim dari Dinas Kesehatan merupakan bentuk sinergi antara pemerintah daerah dan Puskesmas dalam melakukan pembinaan terhadap fasilitas pelayanan agar mampu memenuhi standar kesehatan lingkungan secara optimal.
Sebanyak delapan orang dari SPPG Rembun 2 mengikuti kegiatan inspeksi ini. Seluruh peserta berpartisipasi aktif selama proses pemeriksaan berlangsung, mulai dari mendampingi tim saat melakukan peninjauan lapangan hingga berdiskusi mengenai berbagai aspek yang masih memerlukan penyempurnaan. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan ini tidak hanya berupa pemeriksaan, tetapi juga pembinaan dan konsultasi agar setiap rekomendasi yang diberikan dapat dipahami dengan baik dan mudah diterapkan.
Inspeksi Kesehatan Lingkungan merupakan salah satu kegiatan penting dalam upaya pencegahan risiko kesehatan yang dapat timbul akibat kondisi lingkungan yang kurang memenuhi syarat. Melalui kegiatan ini, petugas melakukan identifikasi terhadap berbagai komponen kesehatan lingkungan yang berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh terhadap kondisi bangunan, kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, fasilitas sanitasi, pengelolaan limbah, sistem pembuangan air limbah, pengelolaan sampah, fasilitas cuci tangan, ventilasi, pencahayaan, hingga penerapan higiene dan sanitasi selama proses operasional.
Selain melakukan observasi secara langsung, tim juga memberikan penjelasan mengenai pentingnya setiap komponen kesehatan lingkungan dalam mendukung pelayanan yang aman dan berkualitas. Lingkungan yang bersih dan memenuhi standar kesehatan tidak hanya berfungsi untuk menjaga kenyamanan, tetapi juga menjadi salah satu faktor utama dalam mencegah terjadinya pencemaran, penyebaran penyakit, maupun risiko kontaminasi yang dapat berdampak terhadap kesehatan.
Selama pelaksanaan inspeksi, tim melakukan penilaian secara objektif berdasarkan instrumen yang telah ditetapkan. Hasil penilaian menunjukkan bahwa secara umum SPPG Rembun 2 telah memiliki komitmen yang baik dalam menjaga kebersihan lingkungan serta menjalankan operasional pelayanan. Namun demikian, masih terdapat beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut agar seluruh persyaratan kesehatan lingkungan dapat terpenuhi secara optimal.
Beberapa temuan yang diperoleh selama inspeksi menjadi bahan evaluasi bersama antara tim pemeriksa dan pengelola SPPG. Seluruh hasil temuan disampaikan secara terbuka disertai penjelasan mengenai alasan perlunya perbaikan serta rekomendasi teknis yang dapat segera dilaksanakan. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada pengelola bahwa setiap rekomendasi bukan semata-mata sebagai bentuk penilaian, melainkan sebagai langkah pembinaan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelayanan.
[Gambar] [Gambar]
Melalui diskusi yang berlangsung selama kegiatan, pengelola SPPG Rembun 2 juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi dalam pemenuhan standar kesehatan lingkungan. Dengan adanya komunikasi dua arah tersebut, diharapkan solusi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan sehingga proses perbaikan dapat dilakukan secara bertahap namun tetap mengacu pada standar yang telah ditetapkan.
Inspeksi Kesehatan Lingkungan Tahap 1 merupakan langkah awal dalam rangkaian proses pemenuhan standar kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, hasil inspeksi ini akan menjadi dasar bagi pengelola SPPG untuk melakukan berbagai perbaikan dan melengkapi sarana maupun prasarana yang masih belum sesuai. Setelah seluruh rekomendasi ditindaklanjuti, akan dilakukan penilaian kembali melalui IKL Tahap 2 untuk memastikan bahwa setiap kekurangan telah diperbaiki dan seluruh persyaratan telah terpenuhi.
Puskesmas Siwalan berharap agar seluruh rekomendasi hasil inspeksi dapat segera ditindaklanjuti oleh pengelola SPPG Rembun 2. Komitmen bersama dalam memenuhi standar kesehatan lingkungan merupakan investasi penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan mendukung penyelenggaraan pelayanan yang berkualitas. Selain itu, penerapan sanitasi yang baik juga menjadi salah satu bentuk upaya promotif dan preventif dalam melindungi kesehatan masyarakat.
[Gambar] [Gambar]
Melalui kegiatan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan, Puskesmas Siwalan akan terus berupaya meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di seluruh wilayah kerjanya. Sinergi antara Puskesmas, Dinas Kesehatan, serta seluruh pengelola fasilitas pelayanan diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang memenuhi standar kesehatan, sehingga setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dapat berlangsung secara optimal, aman, dan berkelanjutan.
Kamis, 2 Juli 2026
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Sebagai upaya untuk mempercepat penemuan kasus, memastikan keberlangsungan pengobatan, serta mencegah penularan di lingkungan sekitar, Puskesmas Siwalan terus mengoptimalkan kegiatan pelacakan atau tracking TB melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah tracking TB yang melibatkan Programmer TB Puskesmas Siwalan bersama Babinsa dan Kader TB MSI (Mentari Sehat Indonesia).
Kegiatan tracking TB merupakan bagian dari strategi aktif dalam menemukan kasus TB di masyarakat. Tim melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien maupun kontak erat pasien TB untuk melakukan pemantauan kondisi kesehatan, memberikan edukasi, serta melakukan investigasi kontak. Melalui pendekatan ini, diharapkan individu yang berisiko tertular dapat segera diperiksa dan mendapatkan penanganan yang tepat apabila ditemukan gejala yang mengarah pada TB.
Dalam pelaksanaannya, Babinsa berperan sebagai mitra strategis yang membantu menjangkau masyarakat serta memberikan dukungan sosial kepada pasien dan keluarga. Sementara itu, Kader TB MSI memiliki peran penting sebagai penggerak masyarakat yang membantu melakukan pendampingan, edukasi, dan pemantauan kepatuhan pengobatan pasien TB di wilayah binaannya. Sinergi antara tenaga kesehatan, Babinsa, dan kader diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan program pengendalian TB secara menyeluruh.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari implementasi gerakan TOSS TB (Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh). TOSS TB merupakan gerakan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menemukan kasus TB sedini mungkin dan memastikan setiap pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Melalui gerakan ini, masyarakat diajak untuk lebih peduli terhadap gejala TB seperti batuk berdahak yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, batuk bercampur darah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam berkepanjangan, berkeringat pada malam hari, serta mudah lelah.
Prinsip utama TOSS TB adalah memastikan bahwa setiap orang yang terduga TB segera diperiksa, mendapatkan diagnosis yang tepat, dan menjalani pengobatan sampai sembuh. Pengobatan TB yang tidak tuntas dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat atau dikenal dengan TB resistan obat, yang membutuhkan pengobatan lebih lama dan lebih kompleks. Oleh karena itu, dukungan keluarga, masyarakat, kader kesehatan, serta petugas kesehatan sangat dibutuhkan agar pasien tetap patuh menjalani pengobatan sesuai anjuran.
Selain melakukan pemantauan dan investigasi kontak, tim juga memberikan edukasi kepada keluarga mengenai cara pencegahan penularan TB. Edukasi tersebut meliputi penerapan etika batuk, penggunaan masker saat diperlukan, menjaga kebersihan lingkungan, memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik, serta pentingnya asupan gizi yang cukup untuk mendukung proses penyembuhan. Keluarga juga diimbau untuk tidak memberikan stigma kepada penderita TB karena penyakit ini dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur dan tuntas.
Melalui kegiatan tracking TB yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan semakin banyak kasus TB yang dapat ditemukan lebih awal sehingga penularan di masyarakat dapat ditekan. Puskesmas Siwalan berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung target eliminasi TB di Indonesia. Dengan semangat TOSS TB, mari bersama-sama berperan aktif dalam menemukan kasus TB, mendukung pasien menjalani pengobatan hingga sembuh, serta menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari tuberkulosis.
Rabu, 10 Juni 2026
Puskesmas Siwalan terus berkomitmen dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok usia rentan seperti bayi. Salah satu inovasi layanan yang rutin dilaksanakan adalah Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT), yang menjadi langkah strategis dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal sejak dini.
Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) merupakan kegiatan pelayanan kesehatan komprehensif yang difokuskan pada bayi usia tertentu dengan pendekatan terpadu. PKAT tidak hanya sekadar pemeriksaan fisik, tetapi juga mencakup pemantauan tumbuh kembang, evaluasi status gizi, hingga edukasi kepada orang tua.
Melalui pendekatan terintegrasi ini, berbagai aspek kesehatan anak dapat dinilai secara menyeluruh dalam satu rangkaian kegiatan, sehingga lebih efektif dan efisien.
Di Puskesmas Siwalan, kegiatan PKAT dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa pada minggu ke-3 setiap bulan. Pelaksanaan yang terjadwal ini bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat sekaligus memastikan pemantauan kesehatan anak dilakukan secara berkelanjutan.
[Gambar][Gambar]
Sasaran utama dari kegiatan PKAT adalah:
Pemilihan usia ini bukan tanpa alasan. Usia 6 bulan merupakan fase penting dalam kehidupan bayi, karena pada periode ini bayi mulai memasuki tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), sekaligus menjadi masa krusial dalam pemantauan tumbuh kembang.
Pelaksanaan PKAT memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:
Alur Pelaksanaan PKAT
Kegiatan PKAT di Puskesmas Siwalan dilaksanakan secara sistematis melalui beberapa tahapan, yaitu:
Kehadiran PKAT memberikan berbagai manfaat, antara lain:
[Gambar][Gambar][Gambar]
Puskesmas Siwalan berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan mudah diakses oleh masyarakat. Melalui PKAT, diharapkan setiap anak mendapatkan haknya untuk tumbuh sehat, cerdas, dan optimal.
Partisipasi aktif orang tua sangat diharapkan dalam setiap pelaksanaan PKAT. Dengan kolaborasi antara tenaga kesehatan dan keluarga, upaya menjaga kesehatan anak dapat berjalan lebih maksimal.
Selasa, 28 April 2026
Sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat, Puskesmas Siwalan terus berkomitmen menghadirkan layanan yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif dan berkeadilan. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah pengembangan Puskesmas Ramah Lansia dan Disabilitas, yang ditujukan untuk memastikan kelompok rentan mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman, nyaman, dan mudah diakses.
Kelompok lansia dan penyandang disabilitas merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus dalam pelayanan kesehatan. Seiring bertambahnya usia, lansia kerap mengalami penurunan fungsi fisik maupun kognitif, serta lebih rentan terhadap penyakit kronis. Di sisi lain, penyandang disabilitas sering menghadapi hambatan akses, baik secara fisik maupun sosial, dalam memperoleh layanan kesehatan. Menjawab tantangan tersebut, Puskesmas Siwalan berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
Pelayanan Berbasis Kebutuhan Kelompok Rentan
Puskesmas Siwalan memandang bahwa pelayanan kesehatan tidak bisa disamaratakan bagi seluruh pasien. Oleh karena itu, pendekatan berbasis kebutuhan menjadi prioritas utama dalam pelayanan bagi lansia dan disabilitas.
Bagi pasien lansia, Puskesmas Siwalan menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan rutin, pemantauan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, serta konsultasi kesehatan yang dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada aspek fisik, pelayanan juga memperhatikan kondisi psikologis lansia, termasuk deteksi dini gangguan kognitif dan kesehatan mental.
Sementara itu, bagi penyandang disabilitas, pelayanan difokuskan pada kemudahan akses dan komunikasi. Petugas kesehatan berupaya memberikan pelayanan dengan pendekatan yang lebih sabar, komunikatif, dan empatik. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pasien dapat memahami kondisi kesehatannya dan mengikuti anjuran medis dengan baik.
Peningkatan Aksesibilitas Fasilitas
Dalam mewujudkan puskesmas yang ramah bagi semua kalangan, Puskesmas Siwalan juga melakukan berbagai penyesuaian fasilitas. Upaya ini meliputi penyediaan jalur landai untuk memudahkan pengguna kursi roda, ruang tunggu yang nyaman, serta penataan ruang pelayanan yang lebih mudah dijangkau oleh lansia.
Selain itu, petugas juga siap memberikan bantuan bagi pasien yang membutuhkan pendampingan, mulai dari proses pendaftaran hingga pelayanan medis. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi hambatan yang selama ini dirasakan oleh kelompok rentan saat mengakses layanan kesehatan.
[Gambar][Gambar]
[Gambar]
[Gambar]
Pelayanan yang Humanis dan Berempati
Lebih dari sekadar fasilitas, Puskesmas Siwalan menekankan pentingnya sikap tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan. Pelayanan ramah lansia dan disabilitas tidak hanya diukur dari sarana prasarana, tetapi juga dari cara petugas berinteraksi dengan pasien.
Tenaga kesehatan di Puskesmas Siwalan terus didorong untuk mengedepankan komunikasi yang santun, tidak terburu-buru, serta memberikan penjelasan yang mudah dipahami. Sikap empati menjadi kunci dalam menciptakan suasana pelayanan yang nyaman, terutama bagi pasien yang membutuhkan perhatian lebih.
Kegiatan Promotif dan Preventif
Selain pelayanan di dalam gedung, Puskesmas Siwalan juga aktif melaksanakan kegiatan promotif dan preventif di masyarakat. Kegiatan seperti posyandu lansia, senam lansia, serta edukasi kesehatan rutin menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup kelompok usia lanjut.
Dalam kegiatan tersebut, lansia tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga ruang untuk berinteraksi sosial, yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan pendekatan pelayanan yang holistik, yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan peningkatan kualitas hidup.
[Gambar]
Peran Keluarga dan Dukungan Lingkungan
Puskesmas Siwalan menyadari bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan bagi lansia dan disabilitas tidak dapat berjalan sendiri. Peran keluarga sangat penting dalam mendukung perawatan dan pemantauan kesehatan pasien.
Oleh karena itu, edukasi kepada keluarga juga menjadi bagian dari pelayanan, agar mereka mampu memberikan pendampingan yang tepat. Selain itu, masyarakat juga diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, tanpa stigma terhadap penyandang disabilitas.
Tantangan dan Upaya Berkelanjutan
Dalam pelaksanaannya, pengembangan Puskesmas Ramah Lansia dan Disabilitas masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sarana, kebutuhan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta perlunya dukungan lintas sektor.
Namun demikian, Puskesmas Siwalan terus berupaya melakukan perbaikan secara bertahap. Evaluasi layanan dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
[Gambar][Gambar]
Komitmen untuk Pelayanan yang Lebih Baik
Melalui berbagai upaya tersebut, Puskesmas Siwalan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya bagi kelompok rentan. Pelayanan ramah lansia dan disabilitas bukan hanya sebuah program, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab dalam memberikan layanan kesehatan yang adil dan merata.
Ke depan, diharapkan semakin banyak inovasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung pelayanan yang lebih inklusif. Dengan sinergi antara tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat, Puskesmas Siwalan optimis dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang benar-benar menjangkau semua lapisan masyarakat.
Sabtu, 18 April 2026
Puskesmas Siwalan kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui kegiatan promotif dan preventif dengan menyelenggarakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi siswa di SMPN 1 Siwalan. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada Senin, 13 April 2026 dan Sabtu, 18 April 2026, dengan sasaran seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya deteksi dini terhadap kondisi kesehatan remaja usia sekolah, yang menjadi salah satu kelompok rentan dalam siklus kehidupan. Masa remaja merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, pemantauan kondisi kesehatan sejak dini menjadi langkah strategis untuk mencegah berbagai masalah kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup di masa mendatang.
Pelaksanaan CKG di SMPN 1 Siwalan mendapat sambutan positif dari pihak sekolah, guru, serta para siswa. Sejak pagi hari, para siswa mengikuti kegiatan dengan tertib sesuai jadwal yang telah ditentukan. Petugas kesehatan dari Puskesmas Siwalan melakukan pemeriksaan secara sistematis dan terorganisir guna memastikan seluruh siswa mendapatkan pelayanan yang optimal.
Adapun jenis pemeriksaan yang dilakukan dalam kegiatan ini meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk menilai status gizi siswa, serta pemeriksaan tekanan darah guna mendeteksi dini kemungkinan adanya gangguan kesehatan seperti hipertensi. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan kesehatan mata untuk mengetahui adanya gangguan penglihatan yang dapat mengganggu proses belajar, serta pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit gigi dan gusi yang masih banyak ditemukan pada usia sekolah.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga mencakup skrining anemia melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb), yang sangat penting terutama bagi remaja putri. Anemia pada remaja dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar, kelelahan, serta gangguan pertumbuhan. Dengan adanya skrining ini, diharapkan kasus anemia dapat terdeteksi lebih awal sehingga dapat segera ditindaklanjuti.
[Gambar][Gambar]
Selain pemeriksaan fisik, para siswa juga diberikan kesempatan untuk melakukan konsultasi kesehatan langsung dengan petugas. Dalam sesi ini, siswa dapat menyampaikan keluhan atau bertanya terkait kondisi kesehatannya, sehingga dapat memperoleh edukasi dan saran yang tepat sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Kegiatan Cek Kesehatan Gratis ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan profesional dari Puskesmas Siwalan yang terdiri dari berbagai bidang, termasuk tenaga medis dan tenaga kesehatan lingkungan. Pelayanan yang diberikan mengedepankan prinsip ramah, cepat, dan berkualitas, sehingga siswa merasa nyaman selama mengikuti rangkaian pemeriksaan.
Melalui kegiatan ini, Puskesmas Siwalan tidak hanya berfokus pada aspek pemeriksaan kesehatan semata, tetapi juga berupaya meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan sejak usia dini. Edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat, pentingnya asupan gizi seimbang, serta kebiasaan menjaga kebersihan diri turut disampaikan sebagai bagian dari pendekatan promotif.
Hasil dari pemeriksaan kesehatan ini nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak Puskesmas maupun sekolah dalam merancang tindak lanjut yang diperlukan, baik berupa rujukan bagi siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut maupun kegiatan edukasi lanjutan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, upaya peningkatan kesehatan siswa dapat dilakukan secara berkesinambungan dan terarah.
[Gambar][Gambar]
Pihak sekolah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini, karena dinilai sangat membantu dalam memantau kondisi kesehatan siswa secara menyeluruh. Sinergi antara Puskesmas dan pihak sekolah menjadi kunci penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan mendukung proses belajar mengajar yang optimal.
Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari program pembinaan kesehatan anak usia sekolah. Puskesmas Siwalan berkomitmen untuk terus hadir memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, termasuk dalam upaya menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif.
Dengan adanya kegiatan Cek Kesehatan Gratis ini, diharapkan para siswa semakin peduli terhadap kondisi kesehatannya serta mampu menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing di masa depan.
[Gambar][Gambar]
[Gambar][Gambar]
Rabu, 15 April 2026
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan, Puskesmas Siwalan melalui petugas kesehatan lingkungan (kesling) melaksanakan kegiatan pemeriksaan sampel air yang bersumber dari sarana Pamsimas di wilayah Kecamatan Siwalan. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengawasan kualitas air bersih yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, guna memastikan air yang dikonsumsi aman dan memenuhi standar kesehatan.
Pengambilan sampel air dilaksanakan pada hari Selasa dan Kamis, tanggal 7 dan 9 April 2026, dengan cakupan sebanyak 13 desa di wilayah kerja Puskesmas Siwalan. Setiap sampel diambil secara representatif dari sumber air yang digunakan masyarakat, dengan memperhatikan prosedur pengambilan sampel yang sesuai standar agar hasil pemeriksaan dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah proses pengambilan, seluruh sampel air dibawa ke laboratorium Puskesmas Siwalan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan meliputi parameter fisik dan kimia, antara lain suhu, Total Dissolved Solids (TDS), serta derajat keasaman (pH) air. Parameter-parameter ini penting untuk mengetahui kondisi dasar air dan apakah masih dalam batas aman untuk digunakan.
[Gambar][Gambar][Gambar]
Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan bakteriologi untuk mendeteksi adanya mikroorganisme berbahaya, seperti bakteri coliform, yang dapat menjadi indikator pencemaran air. Pemeriksaan bakteriologi ini memerlukan waktu lebih lama dibandingkan pemeriksaan fisik dan kimia, karena melalui proses inkubasi di media tertentu. Umumnya, hasil pemeriksaan bakteriologi dapat diketahui dalam waktu 2 x 24 jam.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air secara menyeluruh, baik dari segi fisik, kimia, maupun mikrobiologi. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi bahan evaluasi serta dasar tindak lanjut dalam pembinaan sarana air bersih di masing-masing desa, termasuk edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan sumber air.
Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan kualitas air yang digunakan masyarakat tetap terjaga dan terhindar dari risiko pencemaran yang dapat berdampak pada kesehatan. Puskesmas Siwalan berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan dan pengawasan kualitas lingkungan secara berkala sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera.
[Gambar][Gambar][Gambar]
[Gambar][Gambar]
Jumat, 10 April 2026