Bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, dengan tujuan menyakiti, merendahkan, atau membuat seseorang merasa tidak berdaya. Fenomena ini masih sering ditemukan di lingkungan sekolah dan dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental maupun perkembangan sosial anak.
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, penting bagi sekolah, orang tua, dan masyarakat memahami bentuk-bentuk bullying, dampaknya, serta cara pencegahannya.
1. Jenis-Jenis Bullying di Sekolah
Bullying Fisik
Termasuk memukul, menendang, mendorong, menampar, menarik rambut, merusak barang milik teman, hingga mengunci seseorang di dalam ruang tertutup. Bentuk ini mudah terlihat namun sering dianggap “biasa” oleh sebagian orang.
Bullying Verbal
Terjadi melalui kata-kata yang menyakitkan seperti mengejek, menghina, memaki, memberi julukan buruk, atau mengancam. Bullying verbal bisa berdampak sama buruknya dengan bullying fisik.
Bullying Sosial (Relasional)
Upaya merusak reputasi atau hubungan sosial seseorang, misalnya mengucilkan teman dari kelompok, menyebarkan gosip, memanipulasi pertemanan, hingga mempermalukan di depan umum.
Cyberbullying
Perundungan melalui media digital—media sosial, pesan instan, email, atau game online. Contohnya menyebarkan foto/video memalukan, komentar kebencian, membuat akun palsu untuk menjatuhkan seseorang, atau mengirim pesan ancaman.
Sabtu, 15 November 2025
Bullying Akademik
Menekan atau merendahkan kemampuan akademik teman, misalnya mengejek nilai buruk, menolak kerja kelompok dengan alasan meremehkan kemampuan, atau mengintimidasi agar seseorang mengerjakan tugas untuk pelaku.
2. Penyebab Terjadinya Bullying
Bullying tidak muncul begitu saja. Beberapa faktor pemicunya antara lain:
Rendahnya empati dan kontrol diri pada pelaku
Pengaruh lingkungan, seperti keluarga yang sering bertengkar atau pola asuh keras
Budaya senioritas di sekolah
Toleransi terhadap kekerasan, baik fisik maupun verbal
Keinginan pelaku menunjukkan dominasi di kelompoknya
Kurangnya pengawasan dari guru dan orang tua
3. Dampak Bullying bagi Korban
Bullying memiliki dampak serius, baik jangka pendek maupun jangka panjang:
Dampak Jangka Pendek
Takut masuk sekolah
Menurunnya prestasi akademik
Gangguan tidur
Hilangnya rasa percaya diri
Menarik diri dari pergaulan
Dampak Jangka Panjang
Trauma psikologis
Gangguan kecemasan dan depresi
Kesulitan membangun hubungan sosial
Risiko perilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri
Menurunnya perkembangan karakter dan kemampuan sosial
Dampak ini bisa terbawa hingga dewasa, sehingga pencegahan bullying merupakan hal yang sangat penting.
4. Dampak Bullying bagi Pelaku
Tidak hanya korban, pelaku bullying juga berisiko mengalami masalah di kemudian hari, seperti:
Kesulitan mengontrol emosi
Risiko terlibat tindak kekerasan atau kriminal
Kesulitan menghargai orang lain
Potensi mengalami masalah hubungan sosial saat dewasa
Menurunnya performa akademik akibat perilaku negatif berulang
5. Peran Guru dan Sekolah dalam Pencegahan Bullying
A. Kebijakan Anti-Bullying
Sekolah perlu memiliki aturan tertulis yang tegas mengenai perundungan, langkah penanganan, dan sanksi bagi pelaku.
B. Pendidikan Karakter
Menguatkan nilai-nilai empati, toleransi, dan saling menghargai melalui pembiasaan, materi pelajaran, serta kegiatan ekstrakurikuler.
C. Membangun Sekolah Ramah Anak
Lingkungan belajar harus aman, nyaman, dan inklusif sehingga siswa merasa dihargai.
D. Pelatihan Guru
Guru perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda bullying, teknik intervensi awal, serta pendampingan psikososial.
E. Pengawasan Area Rawan Bullying
Seperti kamar mandi, kantin, area belakang sekolah, dan transportasi sekolah.
6. Peran Orang Tua dalam Pencegahan Bullying
Mensosialisasikan nilai empati dan sopan santun sejak dini
Mengawasi aktivitas anak, termasuk penggunaan gadget
Membangun komunikasi terbuka agar anak berani bercerita
Menjadi teladan dalam pengelolaan emosi
Mengajarkan anak cara menghadapi konflik tanpa kekerasan
7. Tanda-Tanda Anak Mengalami Bullying
Orang tua dan guru perlu waspada jika anak menunjukkan beberapa ciri berikut:
Tidak mau berangkat sekolah
Perubahan suasana hati yang drastis
Luka fisik tanpa penjelasan jelas
Kehilangan barang atau uang secara tiba-tiba
Nilai sekolah menurun
Mengalami mimpi buruk atau sulit tidur
Menarik diri dari pergaulan
8. Cara Anak Menghadapi Bullying
Anak perlu dibekali cara menghadapi atau menghindari bullying, antara lain:
Berani mengatakan “stop” dengan tegas
Tidak membalas kekerasan
Menghindari tempat rawan
Mencari teman untuk berjalan bersama
Melaporkan kepada guru atau orang tua
Menyimpan bukti jika terjadi cyberbullying
9. Penanganan Korban Bullying
Sekolah dan orang tua perlu memberikan:
Pendampingan psikologis
Penanganan medis bila diperlukan
Dukungan emosional
Penguatan rasa percaya diri
Ruang aman untuk bercerita
Intervensi konseling profesional bila gejala berat
10. Ajakan Bersama: Stop Bullying Sekarang
Bullying bukan hal sepele. Setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan dihormati di sekolah. Pencegahan membutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, siswa, dan masyarakat. Lingkungan yang bebas perundungan akan melahirkan generasi yang sehat secara mental, kuat secara karakter, dan siap membangun masa depan bangsa.
APA ITU RABIES?
Rabies dikenal juga sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan penyakit menular akut pada susunan saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies, yang ditularkan melalui saliva dan Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR).
Hewan apa yang dapat menularkan Rabies?
Hewan yang dapat menularkan penyakit rabies pada manusia diantaranya adalah anjing, kucing, dan kera. Selain hewan tersebut, beberapa hewan liar yang dapat menularkan rabies yaitu rubah, musang, dan anjing liar. Di Indonesia, hewan yang paling sering menularkan rabies pada manusia adalah anjing (98%) dan sisanya oleh kucing dan kera ( 2%)
Rabies tersebar hampir di semua benua kecuali benua Antartika, lebih dari 150 negara telah terjangkit penyakit ini. Setiap tahun lebih dari 55.000 orang meninggal akibat Rabies dan lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia mendapatkan profilaksis vaksin anti Rabies untuk mencegah berkembangnya penyakit ini. Sejumlah 40% dari seluruh orang-orang yang digigit hewan tersangka Rabies merupakan anak dibawah usia 15 tahun. Di Indonesia, dari 38 provinsi terdapat 26 provinsi endemis Rabies dan 12 provinsi bebas Rabies yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Bagaimana cara penularannya?
Virus rabies terdapat pada air liur hewan yang sakit rabies dan biasanya ditularkan kepada manusia/hewan lainnya melalui gigitan, cakaran serta jilatan pada kulit yang terluka atau selaput lendir mata dan mulut.
Bagaimana penanganan luka gigitan/cakaran oleh hewan penular Rabies?
Bagaimana ciri-ciri Rabies pada manusia?
Demam, mual, sakit tenggorokan, sakit kepala hebat, gelisah, takut air (hydrophobia), takut cahaya (photophobia), air liur berlebihan (hipersalivasi).
Bagaimana ciri-ciri Rabies pada anjing?
Tipe Ganas
Tipe Tenang
Bagaimana Cara Penanganan Luka Gigitan Hewan Penularan Rabies Pada Manusia (Post-esposure Treatment (PET)?
Cara Penanganan Hewan Penular Rabies Yang Menggigit Manusia
Jika terjadi kasus gigitan hewan penular rabies sedapat mungkin hewan penular rabies tersebut ditangkap dan diserahkan atau dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan di Dinas yang membidangi kesehatan hewan setempat untuk diobservasi/diamati selama 14 hari.
CARA PENCEGAHAN RABIES
TIPS WASPADA RABIES
HOAX SEPUTAR RABIES
1. Rabies Tidak Bisa Dicegah
Fakta: Rabies dapat dicegah dengan pemberian vaksin pada anjing atau kucing
2. Rabies Tidak Bisa Disembuhkan
Fakta: Jika infeksi rabies dibiarkan berkembang maka tidak ada pengobatan yang efektif. Oleh karena itu utamakan pencegahan melalui pemberian vaksin dan pengandangan serta segera lakukan langkah penanganan jika tergigit hewan penular rabies
3. Rabies Hanya Ditularkan Melalui Gigitan Hewan
Fakta: Penularan melalui gigitan hewan penular rabies merupakan cara yang paling umum. Akan tetapi, rabies juga dapat ditularkan melalui cakaran bila air liur hewan tersebut terdapat di kuku yang menyebabkan goresan
4. Memberikan tanaman atau minyak tertentu pada luka gigitan akan mencegah rabies
Fakta: Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), langkah terbaik yang harus dilakukan setelah digigit hewan penular rabies adalah mencuci luka dengan segera minimal 15 menit. Setelahnya segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan serum anti rabies (SAR).
Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah tentang khasiat pengobatan alternatif dalam pencegahan rabies.
5. Anjing dan Kucing peliharaan tidak perlu diberikan vaksin rabies
Fakta: ikuti anjuran dokter hewan Anda dalam vaksinasi hewan peliharaan. Hewan peliharaan dapat melarikan diri dan digigit oleh hewan liar yang mungkin menularkan rabies
6. Gigitan hewan penular rabies tidak mengancam jiwa bagi manusia
Fakta: Sebaliknya, penanganan yang terlambat hampir pasti mengakibatkan kematian. Segera cuci luka gigitan dan akses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan serum anti rabies.
7. Gigitan anak anjing rabies tidak mengancam jiwa manusia
Fakta: Gigitan anak anjing rabies tetap berbahaya dan menjadi titik lengah dalam penularan rabies
8. Tanaman Menir Dapat Menyembuhkan Seseorang dari Gigitan Anjing Rabies
Fakta: hinga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa tanaman menir dapat menyembuhkan luka gigitan anjing rabies. Sehingga melakukan dan membawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dan vaksin merupakan langkah yang harus dilakukan.
link :
Selasa, 15 Juli 2025
Puskesmas Siwalan secara rutin melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan kepada anak-anak usia sekolah yang ada di wilayah Kecamatan Siwalan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi cacing usus, yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia, khususnya pada anak-anak.
Infeksi cacing sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang terkena infeksi cacing dapat mengalami gangguan penyerapan nutrisi, penurunan nafsu makan, lemas, kurang konsentrasi, bahkan mengalami gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, Puskesmas Siwalan mengambil peran aktif dalam pencegahan melalui kegiatan pemberian obat cacing secara massal dan gratis.
Sasaran pemberian obat cacing ini adalah anak-anak usia 1 hingga 12 tahun. Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh satuan pendidikan anak usia dini dan dasar, seperti TK, PAUD, SD, dan MI yang ada di wilayah kerja Puskesmas Siwalan. Tidak hanya anak-anak yang bersekolah, anak-anak yang tidak bersekolah pun dapat memperoleh obat cacing secara gratis jika hadir saat kegiatan Posyandu.
Kami bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan obat, dan mengonsumsi obat tersebut di bawah pengawasan guru dan petugas kesehatan. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, dan efektif.
Obat cacing yang diberikan adalah Albendazole 400 mg dalam bentuk tablet kunyah. Dosis yang diberikan hanya satu tablet, cukup sekali dalam 6 bulan. Obat ini dikunyah langsung oleh anak. Namun, bagi anak yang kesulitan mengunyah, tablet bisa dihancurkan dan dicampur dengan sedikit air.
Obat ini aman dan telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk digunakan secara luas dalam program pemberantasan cacingan. Efek samping yang mungkin muncul biasanya ringan dan sementara, seperti mual atau pusing, dan akan hilang dengan sendirinya.
Pemberian obat cacing secara berkala penting dilakukan karena telur cacing dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang kurang bersih. Anak-anak sangat rentan terhadap infeksi ini karena mereka aktif bermain, sering memasukkan tangan ke mulut, dan belum sepenuhnya memahami pentingnya kebersihan.
Dengan pemberian obat cacing secara rutin:
Anak terlindungi dari infeksi cacing usus
Nafsu makan dan daya tahan tubuh anak meningkat
Kemampuan belajar anak menjadi lebih baik
Anak tumbuh dan berkembang dengan optimal
Kami mengajak orang tua dan guru untuk turut berperan dalam menyukseskan kegiatan ini. Orang tua diharapkan memberi izin dan dukungan kepada anak untuk mengikuti kegiatan pemberian obat cacing di sekolah. Selain itu, pastikan anak sudah sarapan terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat agar mencegah rasa mual setelah minum obat.
Guru sebagai pendamping di sekolah juga memiliki peran besar dalam memberikan edukasi dan membimbing anak selama kegiatan berlangsung.
Selasa, 15 April 2025