Kehamilan merupakan suatu proses faali yang menjadi awal kehidupan generasi berikut. Pencegahan masalah gizi pada ibu hamil merupakan hal penting dilaksanakan mulai dari menjaga kesehatan dan status gizinya saat sebelum dan selama kehamilan, dilanjutkan dengan setelah melahirkan dan masa menyusui. Salah satu kebutuhan esensial untuk proses reproduksi sehat adalah terpenuhinya kebutuhan energi, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan cairan (termasuk air) serta serat yang cukup baik kuantitas maupun kualitas.
Kurangnya asupan energi yang berasal dari zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak) maupun zat gizi mikro terutama vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium dan iodium dan zat mikro lain pada wanita usia subur yang berkelanjutan (sejak masa remaja, pra konsepsi sampai masa kehamilan), mengakibatkan terjadinya Kurang Energi Kronis ( KEK) pada masa kehamilan yang diawali dengan kejadian “risiko” KEK dan ditandai oleh rendahnya cadangan energi dalam jangka waktu cukup lama yang diukur dengan Lingkar Lengan Atas (LiLA) kurang dari 23,5 cm atau Indeks Massa Tubuh (IMT) pra hamil atau Trimester I (usia kehamilan ≤12 minggu) dibawah 18,5 kg/m2. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah perbandingan antara berat badan (dalam kg)dengan tinggi badan (dalam meter), rumus perhitungan BB/(TB)2 (kg/m2).
Kamis, 9 April 2026
Ibu hamil yang tidak mendapatkan kecukupan kebutuhan zat gizinya, akan mengalami kurang energi kronis ( Bumil KEK). Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) adalah Ibu Hamil yang memiliki risiko KEK yaitu yang mempunyai ukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) di bawah 23,5 cm atau Indeks Massa Tubuh (IMT) pada pra hamil atau Trimester I (usia kehamilan ≤12 minggu) dibawah 18,5 kg/m2 (Kurus).
“Makanan tambahan berbahan pangan lokal siap santap bukan menggantikan kebutuhan makan ibu hamil KEK melainkan makanan minimal yang harus ditambahkan pada ibu hamil KEK setelah kebutuhan dasar makannya terpenuhi untuk mengatasi masalah gizi ibu hamil”
Tips Sehat Ibu Hamil
Dalam rangka memperingati Hari Balita Nasional yang jatuh pada tanggal 8 April 2026, perhatian terhadap pentingnya pemenuhan gizi pada anak usia balita kembali menjadi sorotan utama. Momentum ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa masa balita merupakan periode krusial dalam menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan anak di masa depan. Melalui tema “Pemberian Makanan Tepat, Cegah Stunting”, peringatan tahun ini menekankan pentingnya peran keluarga dalam memastikan asupan gizi yang optimal sebagai langkah strategis dalam mencegah stunting sejak dini.
Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Dampaknya tidak hanya terlihat pada tinggi badan yang tidak sesuai dengan usia, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif, sistem imun, hingga produktivitas di masa depan.
Upaya pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh, berkelanjutan, serta melibatkan berbagai pihak, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemerintah. Salah satu langkah paling efektif yang dapat dilakukan adalah dengan memastikan pemberian makanan yang tepat, baik dari segi jenis, jumlah, maupun frekuensinya.
Pentingnya Gizi Seimbang pada Balita
Masa balita merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada fase ini, tubuh dan otak berkembang dengan sangat pesat sehingga membutuhkan asupan gizi yang optimal. Kekurangan nutrisi pada masa ini dapat berdampak jangka panjang dan sulit diperbaiki di kemudian hari.
Pemberian makanan yang tepat tidak hanya berarti cukup dalam jumlah, tetapi juga harus memenuhi prinsip gizi seimbang. Anak perlu mendapatkan karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk pertumbuhan, lemak sehat untuk perkembangan otak, serta vitamin dan mineral untuk menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan.
Sumber makanan yang beragam sangat dianjurkan, seperti nasi, lauk hewani (ikan, telur, daging), lauk nabati (tahu, tempe), sayuran, dan buah-buahan. Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan aman, higienis, dan diolah dengan cara yang benar agar kandungan gizinya tetap terjaga.
Peran ASI dan MP-ASI dalam Pencegahan Stunting
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan fondasi utama dalam pencegahan stunting. ASI mengandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan bayi, serta antibodi yang dapat melindungi dari berbagai penyakit infeksi.
Setelah bayi berusia enam bulan, kebutuhan gizinya meningkat sehingga perlu diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pada tahap ini, orang tua perlu memperhatikan kualitas MP-ASI, baik dari segi tekstur, variasi, maupun kandungan nutrisinya. MP-ASI yang baik adalah yang kaya protein hewani, karena terbukti berperan penting dalam mencegah stunting.
Pemberian MP-ASI juga harus dilakukan secara bertahap sesuai usia anak, dimulai dari makanan yang dihaluskan hingga makanan keluarga. Frekuensi makan juga perlu ditingkatkan seiring bertambahnya usia anak, agar kebutuhan energi dan zat gizi dapat terpenuhi.
Pola Asuh dan Kebiasaan Makan yang Baik
Selain kualitas makanan, pola asuh juga memegang peranan penting dalam pencegahan stunting. Orang tua perlu membangun kebiasaan makan yang baik sejak dini, seperti makan tepat waktu, tidak memaksa anak, serta menciptakan suasana makan yang menyenangkan.
Interaksi antara orang tua dan anak saat makan juga sangat penting. Anak yang mendapatkan perhatian dan stimulasi positif cenderung memiliki nafsu makan yang lebih baik. Sebaliknya, kebiasaan memberikan makanan sambil bermain gadget atau televisi dapat mengganggu fokus anak saat makan dan berisiko menurunkan asupan gizi.
Penting pula untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin melalui penimbangan dan pengukuran tinggi badan di posyandu atau fasilitas kesehatan. Dengan pemantauan yang baik, gangguan pertumbuhan dapat dideteksi lebih awal dan segera ditangani.
Pengaruh Infeksi terhadap Risiko Stunting
Stunting tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, tetapi juga berkaitan erat dengan penyakit infeksi yang berulang, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan. Infeksi dapat mengganggu penyerapan nutrisi dalam tubuh serta meningkatkan kebutuhan energi, sehingga memperparah kondisi kekurangan gizi.
Oleh karena itu, selain memastikan asupan makanan yang cukup, penting juga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Cuci tangan dengan sabun, penggunaan air bersih, serta sanitasi yang baik merupakan langkah sederhana namun efektif dalam mencegah infeksi.
Imunisasi lengkap juga berperan penting dalam melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat berdampak pada pertumbuhan. Dengan tubuh yang sehat, anak dapat menyerap nutrisi secara optimal dan tumbuh sesuai dengan usianya.
Peran Keluarga dan Lingkungan dalam Mendukung Gizi Anak
Pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga seluruh anggota keluarga. Dukungan dari ayah, kakek-nenek, serta lingkungan sekitar sangat diperlukan dalam menciptakan pola makan yang sehat bagi anak.
Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang perlu terus ditingkatkan, terutama bagi keluarga dengan balita. Tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat, baik melalui posyandu, puskesmas, maupun kegiatan kesehatan lainnya.
Selain itu, pemerintah juga terus berupaya menekan angka stunting melalui berbagai program, seperti pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan. Kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menurunkan prevalensi stunting.
Investasi Masa Depan Melalui Gizi yang Tepat
Mencegah stunting berarti berinvestasi pada masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh sehat dan cerdas akan menjadi generasi yang produktif dan mampu bersaing di masa mendatang. Sebaliknya, jika stunting tidak ditangani dengan baik, dampaknya dapat dirasakan dalam jangka panjang, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.
Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk memahami bahwa pemberian makanan yang tepat bukan sekadar memenuhi kebutuhan harian, tetapi merupakan langkah strategis dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Dengan komitmen bersama, dimulai dari keluarga hingga tingkat masyarakat, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara efektif. Mari kita wujudkan generasi sehat, cerdas, dan berkualitas melalui pemberian makanan yang tepat sejak dini.
Rabu, 8 April 2026
Isi Piringku merupakan pedoman gizi seimbang yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai upaya untuk membantu masyarakat memahami cara menyusun menu makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pedoman ini menggantikan konsep 4 Sehat 5 Sempurna dengan menekankan keseimbangan porsi, keberagaman jenis makanan, serta pentingnya perilaku hidup bersih dan aktif. Melalui pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami, Isi Piringku diharapkan dapat diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat dalam setiap waktu makan.
Dalam konsep Isi Piringku, satu piring makan dibagi menjadi dua bagian besar. Setengah bagian piring diisi oleh sayur dan buah, sedangkan setengah bagian lainnya terdiri dari makanan pokok dan lauk pauk. Pembagian ini bertujuan agar tubuh memperoleh asupan zat gizi yang lengkap dan seimbang sesuai dengan kebutuhan harian.
Makanan pokok berfungsi sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Kandungan karbohidrat di dalam makanan pokok sangat dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, mendukung fungsi otak, serta menjaga stamina tubuh. Makanan pokok tidak hanya terbatas pada nasi, tetapi juga dapat berupa jagung, kentang, singkong, ubi, sagu, maupun roti. Dengan mengonsumsi makanan pokok sesuai porsi, tubuh memperoleh energi yang cukup tanpa berlebihan.
Lauk pauk memiliki fungsi sebagai sumber protein yang berperan penting dalam pertumbuhan, pembentukan, dan perbaikan sel-sel tubuh. Protein juga dibutuhkan untuk pembentukan enzim, hormon, serta menjaga daya tahan tubuh. Lauk pauk dapat berasal dari sumber hewani seperti ikan, telur, ayam, dan daging, maupun dari sumber nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Kombinasi sumber protein hewani dan nabati sangat dianjurkan agar kebutuhan gizi terpenuhi secara optimal.
Sayur-sayuran berfungsi sebagai sumber vitamin, mineral, dan serat yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Serat membantu melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, serta membantu mengontrol kadar gula dan kolesterol darah. Vitamin dan mineral dalam sayur berperan dalam menjaga daya tahan tubuh, kesehatan mata, kulit, serta berbagai fungsi organ lainnya. Oleh karena itu, konsumsi sayur dianjurkan dalam jumlah yang lebih banyak dan bervariasi setiap hari.
Buah-buahan juga memiliki fungsi penting sebagai sumber vitamin, mineral, dan antioksidan alami. Kandungan antioksidan dalam buah membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sementara seratnya mendukung kesehatan pencernaan. Buah juga memberikan rasa segar dan manis alami sehingga dapat menjadi pilihan sehat dibandingkan makanan tinggi gula. Konsumsi buah secara rutin membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Selain mengatur komposisi makanan, Isi Piringku juga menekankan pentingnya menerapkan perilaku hidup sehat. Masyarakat dianjurkan untuk minum air putih yang cukup, minimal delapan gelas per hari, guna menjaga keseimbangan cairan tubuh. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan menjadi langkah sederhana namun efektif untuk mencegah penularan penyakit. Aktivitas fisik secara rutin juga dianjurkan untuk menjaga kebugaran tubuh, mengontrol berat badan, dan meningkatkan kualitas hidup.
[Gambar] [Gambar]
[Gambar] [Gambar]
[Gambar][Gambar]
[Gambar] [Gambar]
Sabtu, 4 April 2026
Bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang, dengan tujuan menyakiti, merendahkan, atau membuat seseorang merasa tidak berdaya. Fenomena ini masih sering ditemukan di lingkungan sekolah dan dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental maupun perkembangan sosial anak.
Untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, penting bagi sekolah, orang tua, dan masyarakat memahami bentuk-bentuk bullying, dampaknya, serta cara pencegahannya.
1. Jenis-Jenis Bullying di Sekolah
Bullying Fisik
Termasuk memukul, menendang, mendorong, menampar, menarik rambut, merusak barang milik teman, hingga mengunci seseorang di dalam ruang tertutup. Bentuk ini mudah terlihat namun sering dianggap “biasa” oleh sebagian orang.
Bullying Verbal
Terjadi melalui kata-kata yang menyakitkan seperti mengejek, menghina, memaki, memberi julukan buruk, atau mengancam. Bullying verbal bisa berdampak sama buruknya dengan bullying fisik.
Bullying Sosial (Relasional)
Upaya merusak reputasi atau hubungan sosial seseorang, misalnya mengucilkan teman dari kelompok, menyebarkan gosip, memanipulasi pertemanan, hingga mempermalukan di depan umum.
Cyberbullying
Perundungan melalui media digital—media sosial, pesan instan, email, atau game online. Contohnya menyebarkan foto/video memalukan, komentar kebencian, membuat akun palsu untuk menjatuhkan seseorang, atau mengirim pesan ancaman.
Bullying Akademik
Menekan atau merendahkan kemampuan akademik teman, misalnya mengejek nilai buruk, menolak kerja kelompok dengan alasan meremehkan kemampuan, atau mengintimidasi agar seseorang mengerjakan tugas untuk pelaku.
2. Penyebab Terjadinya Bullying
Bullying tidak muncul begitu saja. Beberapa faktor pemicunya antara lain:
Rendahnya empati dan kontrol diri pada pelaku
Pengaruh lingkungan, seperti keluarga yang sering bertengkar atau pola asuh keras
Budaya senioritas di sekolah
Toleransi terhadap kekerasan, baik fisik maupun verbal
Keinginan pelaku menunjukkan dominasi di kelompoknya
Kurangnya pengawasan dari guru dan orang tua
3. Dampak Bullying bagi Korban
Bullying memiliki dampak serius, baik jangka pendek maupun jangka panjang:
Dampak Jangka Pendek
Takut masuk sekolah
Menurunnya prestasi akademik
Gangguan tidur
Hilangnya rasa percaya diri
Menarik diri dari pergaulan
Dampak Jangka Panjang
Trauma psikologis
Gangguan kecemasan dan depresi
Kesulitan membangun hubungan sosial
Risiko perilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri
Menurunnya perkembangan karakter dan kemampuan sosial
Dampak ini bisa terbawa hingga dewasa, sehingga pencegahan bullying merupakan hal yang sangat penting.
4. Dampak Bullying bagi Pelaku
Tidak hanya korban, pelaku bullying juga berisiko mengalami masalah di kemudian hari, seperti:
Kesulitan mengontrol emosi
Risiko terlibat tindak kekerasan atau kriminal
Kesulitan menghargai orang lain
Potensi mengalami masalah hubungan sosial saat dewasa
Menurunnya performa akademik akibat perilaku negatif berulang
5. Peran Guru dan Sekolah dalam Pencegahan Bullying
A. Kebijakan Anti-Bullying
Sekolah perlu memiliki aturan tertulis yang tegas mengenai perundungan, langkah penanganan, dan sanksi bagi pelaku.
B. Pendidikan Karakter
Menguatkan nilai-nilai empati, toleransi, dan saling menghargai melalui pembiasaan, materi pelajaran, serta kegiatan ekstrakurikuler.
C. Membangun Sekolah Ramah Anak
Lingkungan belajar harus aman, nyaman, dan inklusif sehingga siswa merasa dihargai.
D. Pelatihan Guru
Guru perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda bullying, teknik intervensi awal, serta pendampingan psikososial.
E. Pengawasan Area Rawan Bullying
Seperti kamar mandi, kantin, area belakang sekolah, dan transportasi sekolah.
6. Peran Orang Tua dalam Pencegahan Bullying
Mensosialisasikan nilai empati dan sopan santun sejak dini
Mengawasi aktivitas anak, termasuk penggunaan gadget
Membangun komunikasi terbuka agar anak berani bercerita
Menjadi teladan dalam pengelolaan emosi
Mengajarkan anak cara menghadapi konflik tanpa kekerasan
7. Tanda-Tanda Anak Mengalami Bullying
Orang tua dan guru perlu waspada jika anak menunjukkan beberapa ciri berikut:
Tidak mau berangkat sekolah
Perubahan suasana hati yang drastis
Luka fisik tanpa penjelasan jelas
Kehilangan barang atau uang secara tiba-tiba
Nilai sekolah menurun
Mengalami mimpi buruk atau sulit tidur
Menarik diri dari pergaulan
8. Cara Anak Menghadapi Bullying
Anak perlu dibekali cara menghadapi atau menghindari bullying, antara lain:
Berani mengatakan “stop” dengan tegas
Tidak membalas kekerasan
Menghindari tempat rawan
Mencari teman untuk berjalan bersama
Melaporkan kepada guru atau orang tua
Menyimpan bukti jika terjadi cyberbullying
9. Penanganan Korban Bullying
Sekolah dan orang tua perlu memberikan:
Pendampingan psikologis
Penanganan medis bila diperlukan
Dukungan emosional
Penguatan rasa percaya diri
Ruang aman untuk bercerita
Intervensi konseling profesional bila gejala berat
10. Ajakan Bersama: Stop Bullying Sekarang
Bullying bukan hal sepele. Setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan dihormati di sekolah. Pencegahan membutuhkan kerja sama antara sekolah, orang tua, siswa, dan masyarakat. Lingkungan yang bebas perundungan akan melahirkan generasi yang sehat secara mental, kuat secara karakter, dan siap membangun masa depan bangsa.
Sabtu, 15 November 2025
APA ITU RABIES?
Rabies dikenal juga sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan penyakit menular akut pada susunan saraf pusat, disebabkan oleh virus rabies, yang ditularkan melalui saliva dan Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR).
Hewan apa yang dapat menularkan Rabies?
Hewan yang dapat menularkan penyakit rabies pada manusia diantaranya adalah anjing, kucing, dan kera. Selain hewan tersebut, beberapa hewan liar yang dapat menularkan rabies yaitu rubah, musang, dan anjing liar. Di Indonesia, hewan yang paling sering menularkan rabies pada manusia adalah anjing (98%) dan sisanya oleh kucing dan kera ( 2%)
Rabies tersebar hampir di semua benua kecuali benua Antartika, lebih dari 150 negara telah terjangkit penyakit ini. Setiap tahun lebih dari 55.000 orang meninggal akibat Rabies dan lebih dari 15 juta orang di seluruh dunia mendapatkan profilaksis vaksin anti Rabies untuk mencegah berkembangnya penyakit ini. Sejumlah 40% dari seluruh orang-orang yang digigit hewan tersangka Rabies merupakan anak dibawah usia 15 tahun. Di Indonesia, dari 38 provinsi terdapat 26 provinsi endemis Rabies dan 12 provinsi bebas Rabies yaitu DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Bagaimana cara penularannya?
Virus rabies terdapat pada air liur hewan yang sakit rabies dan biasanya ditularkan kepada manusia/hewan lainnya melalui gigitan, cakaran serta jilatan pada kulit yang terluka atau selaput lendir mata dan mulut.
Bagaimana penanganan luka gigitan/cakaran oleh hewan penular Rabies?
Bagaimana ciri-ciri Rabies pada manusia?
Demam, mual, sakit tenggorokan, sakit kepala hebat, gelisah, takut air (hydrophobia), takut cahaya (photophobia), air liur berlebihan (hipersalivasi).
Bagaimana ciri-ciri Rabies pada anjing?
Tipe Ganas
Tipe Tenang
Bagaimana Cara Penanganan Luka Gigitan Hewan Penularan Rabies Pada Manusia (Post-esposure Treatment (PET)?
Cara Penanganan Hewan Penular Rabies Yang Menggigit Manusia
Jika terjadi kasus gigitan hewan penular rabies sedapat mungkin hewan penular rabies tersebut ditangkap dan diserahkan atau dilaporkan kepada petugas kesehatan hewan di Dinas yang membidangi kesehatan hewan setempat untuk diobservasi/diamati selama 14 hari.
CARA PENCEGAHAN RABIES
TIPS WASPADA RABIES
HOAX SEPUTAR RABIES
1. Rabies Tidak Bisa Dicegah
Fakta: Rabies dapat dicegah dengan pemberian vaksin pada anjing atau kucing
2. Rabies Tidak Bisa Disembuhkan
Fakta: Jika infeksi rabies dibiarkan berkembang maka tidak ada pengobatan yang efektif. Oleh karena itu utamakan pencegahan melalui pemberian vaksin dan pengandangan serta segera lakukan langkah penanganan jika tergigit hewan penular rabies
3. Rabies Hanya Ditularkan Melalui Gigitan Hewan
Fakta: Penularan melalui gigitan hewan penular rabies merupakan cara yang paling umum. Akan tetapi, rabies juga dapat ditularkan melalui cakaran bila air liur hewan tersebut terdapat di kuku yang menyebabkan goresan
4. Memberikan tanaman atau minyak tertentu pada luka gigitan akan mencegah rabies
Fakta: Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), langkah terbaik yang harus dilakukan setelah digigit hewan penular rabies adalah mencuci luka dengan segera minimal 15 menit. Setelahnya segera ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan serum anti rabies (SAR).
Sampai saat ini belum ada bukti ilmiah tentang khasiat pengobatan alternatif dalam pencegahan rabies.
5. Anjing dan Kucing peliharaan tidak perlu diberikan vaksin rabies
Fakta: ikuti anjuran dokter hewan Anda dalam vaksinasi hewan peliharaan. Hewan peliharaan dapat melarikan diri dan digigit oleh hewan liar yang mungkin menularkan rabies
6. Gigitan hewan penular rabies tidak mengancam jiwa bagi manusia
Fakta: Sebaliknya, penanganan yang terlambat hampir pasti mengakibatkan kematian. Segera cuci luka gigitan dan akses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan serum anti rabies.
7. Gigitan anak anjing rabies tidak mengancam jiwa manusia
Fakta: Gigitan anak anjing rabies tetap berbahaya dan menjadi titik lengah dalam penularan rabies
8. Tanaman Menir Dapat Menyembuhkan Seseorang dari Gigitan Anjing Rabies
Fakta: hinga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa tanaman menir dapat menyembuhkan luka gigitan anjing rabies. Sehingga melakukan dan membawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dan vaksin merupakan langkah yang harus dilakukan.
link :
Selasa, 15 Juli 2025
Puskesmas Siwalan secara rutin melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan kepada anak-anak usia sekolah yang ada di wilayah Kecamatan Siwalan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional yang bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi cacing usus, yang masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia, khususnya pada anak-anak.
Infeksi cacing sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang terkena infeksi cacing dapat mengalami gangguan penyerapan nutrisi, penurunan nafsu makan, lemas, kurang konsentrasi, bahkan mengalami gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, Puskesmas Siwalan mengambil peran aktif dalam pencegahan melalui kegiatan pemberian obat cacing secara massal dan gratis.
Sasaran pemberian obat cacing ini adalah anak-anak usia 1 hingga 12 tahun. Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh satuan pendidikan anak usia dini dan dasar, seperti TK, PAUD, SD, dan MI yang ada di wilayah kerja Puskesmas Siwalan. Tidak hanya anak-anak yang bersekolah, anak-anak yang tidak bersekolah pun dapat memperoleh obat cacing secara gratis jika hadir saat kegiatan Posyandu.
Kami bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan obat, dan mengonsumsi obat tersebut di bawah pengawasan guru dan petugas kesehatan. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan kegiatan berjalan tertib, aman, dan efektif.
Obat cacing yang diberikan adalah Albendazole 400 mg dalam bentuk tablet kunyah. Dosis yang diberikan hanya satu tablet, cukup sekali dalam 6 bulan. Obat ini dikunyah langsung oleh anak. Namun, bagi anak yang kesulitan mengunyah, tablet bisa dihancurkan dan dicampur dengan sedikit air.
Obat ini aman dan telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk digunakan secara luas dalam program pemberantasan cacingan. Efek samping yang mungkin muncul biasanya ringan dan sementara, seperti mual atau pusing, dan akan hilang dengan sendirinya.
Pemberian obat cacing secara berkala penting dilakukan karena telur cacing dapat menyebar dengan cepat di lingkungan yang kurang bersih. Anak-anak sangat rentan terhadap infeksi ini karena mereka aktif bermain, sering memasukkan tangan ke mulut, dan belum sepenuhnya memahami pentingnya kebersihan.
Dengan pemberian obat cacing secara rutin:
Anak terlindungi dari infeksi cacing usus
Nafsu makan dan daya tahan tubuh anak meningkat
Kemampuan belajar anak menjadi lebih baik
Anak tumbuh dan berkembang dengan optimal
Kami mengajak orang tua dan guru untuk turut berperan dalam menyukseskan kegiatan ini. Orang tua diharapkan memberi izin dan dukungan kepada anak untuk mengikuti kegiatan pemberian obat cacing di sekolah. Selain itu, pastikan anak sudah sarapan terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat agar mencegah rasa mual setelah minum obat.
Guru sebagai pendamping di sekolah juga memiliki peran besar dalam memberikan edukasi dan membimbing anak selama kegiatan berlangsung.
Selasa, 15 April 2025