Jumat, 15 Mei 2026
Kamis, 14 Mei 2026
Rabu, 13 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Senin, 11 Mei 2026
Sabtu, 9 Mei 2026
Jumat, 8 Mei 2026
Pemerintah Indonesia mulai menerapkan sistem pelabelan gizi baru bernama Nutri-Level sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi yang lebih sehat. Kebijakan ini menjadi perhatian luas karena dinilai dapat membantu masyarakat lebih mudah memahami kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada makanan maupun minuman siap konsumsi.
Nutri-Level merupakan sistem pelabelan gizi di bagian depan kemasan atau Front of Pack Nutrition Labelling (FOPNL) yang menggunakan kombinasi warna dan huruf untuk menunjukkan tingkat kandungan GGL dalam suatu produk pangan. Sistem ini diperkenalkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan RI sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung.
Nutri-Level adalah label gizi sederhana yang memudahkan konsumen menilai tingkat kesehatan suatu produk pangan hanya dengan melihat warna dan huruf pada kemasan. Sistem ini membagi produk ke dalam empat kategori, yaitu:
Semakin tinggi kandungan gula, garam, dan lemak dalam produk, maka semakin tinggi pula level yang diberikan.
Menurut BPOM, sistem ini tidak bertujuan melarang masyarakat mengonsumsi produk tertentu, melainkan membantu konsumen membuat keputusan yang lebih bijak saat memilih makanan dan minuman.
Kementerian Kesehatan menyebut konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih menjadi salah satu faktor utama meningkatnya penyakit tidak menular di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal terus mengalami peningkatan.
Menteri Kesehatan RI menjelaskan bahwa kebijakan Nutri-Level diharapkan menjadi sarana edukasi yang sederhana namun efektif agar masyarakat lebih sadar terhadap kandungan nutrisi dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari.
Selain itu, tingginya konsumsi minuman berpemanis juga menjadi perhatian serius pemerintah. Beban pembiayaan penyakit akibat pola makan tidak sehat yang ditanggung sistem kesehatan nasional terus meningkat setiap tahunnya.
Tahap awal penerapan Nutri-Level difokuskan pada minuman berpemanis siap saji, khususnya produk dari usaha skala besar seperti:
Aturan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan siap saji.
Label Nutri-Level nantinya wajib dicantumkan pada:
Langkah ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih transparan kepada konsumen sebelum membeli suatu produk.
[Gambar]
Sejumlah pakar kesehatan menilai Nutri-Level dapat membantu masyarakat lebih cepat memahami informasi gizi dibandingkan membaca tabel nutrisi yang sering dianggap rumit. Kombinasi warna hijau hingga merah dinilai lebih mudah dipahami oleh semua kelompok usia.
Masyarakat juga mulai memberikan respons positif terhadap kebijakan ini. Di berbagai forum diskusi internet dan media sosial, banyak pengguna menilai sistem label tersebut dapat membantu memilih produk yang lebih sehat dengan lebih praktis.
Bahkan, muncul sejumlah inovasi digital dari masyarakat untuk mendukung penggunaan Nutri-Level. Salah satunya adalah aplikasi dan web app independen yang memungkinkan pengguna memindai barcode produk untuk mengetahui kategori Nutri-Level secara otomatis.
Meski mendapat dukungan, penerapan Nutri-Level juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah masa transisi bagi pelaku industri pangan untuk menyesuaikan kemasan dan sistem pelabelan produk mereka.
Selain itu, pengawasan terhadap keakuratan informasi gizi juga menjadi perhatian masyarakat. Beberapa pihak berharap pemerintah memastikan hasil pengujian kandungan gizi dilakukan secara transparan dan sesuai standar laboratorium terakreditasi.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa pencantuman Nutri-Level harus berdasarkan hasil pengujian laboratorium resmi sehingga informasi yang diberikan kepada masyarakat tetap valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hadirnya Nutri-Level menjadi salah satu langkah penting dalam membangun budaya hidup sehat di Indonesia. Dengan informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak memilih makanan dan minuman sehari-hari.
Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa upaya pencegahan penyakit tidak menular tidak hanya dilakukan melalui layanan kesehatan, tetapi juga melalui edukasi konsumsi pangan yang lebih sehat sejak dini. Jika diterapkan secara konsisten dan didukung seluruh pihak, Nutri-Level berpotensi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia di masa mendatang.
Selasa, 12 Mei 2026